SENI PESANAN DI DKJ

Tanggal : 5-04-2007, Kategori : Seni & Hiburan

LAPORAN : M.FARRAS.S

JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

“. Judul bernada satire itu menjadi tema pameran lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berakhir pada 3 April kemarin. Meskipun masih bisa diperdebatkan, tema lukisan itu jelas menarik perhatian. Tetapi Januari lalu, DKJ juga menggelar pameran lukisan yang temannya tak kalah sinis, “Seni Pesanan”.

Dunia seni lukis Indonesia memang pernah mengalami masa “jaya”. Sebutan itu muncul bukan hanya dalam soal kualitas tapi juga adanya ruang perdebatan mengenai karya lukis itu. Perdebatan bukan hanya menyangkut gaya lukis atau kecenderungan seni lukis.

Lebih dari itu, perdebatan malah melebar hingga menyentuh masalah soal ada tidaknya seni lukis Indonesia. Masalah tersebut yang mencuat dalam diskusi yang diselenggarakan DKJ belum lama ini.

Adalah Oesman Effendi yang pada 1969 pernah menggegerkan dunia seni lukis lewat pernyataannya yang menghebohkan. Pelukis itu mengatakan, sebenarnya seni lukis Indonesia tidak ada. Daya hentak sikapnya itu masih terasa hingga kini. Sebuah buku yang diterbitkan DKJ dalam kaitan pameran lukisan koleksi DKJ dan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) malah diberi judul Seni Lukis Indonesia Tidak Ada.

Diskusi yang dihadiri kalangan pelukis, pengamat dan penggemar seni lukis mencatat kemarahan pelukis saat Oesman menyatakan pendapatnya. Beberapa pelukis malah mendesak Oesman menarik kembali ucapannya karena dinilai tidak menghargai seni lukis Indonesia dalam sejarah.

Ketua Komite Seni Sastra DKJ, Bambang Bujono mengatakan, pernyataan Oesman memang menyengat banyak kalangan. Hal tersebut terbukti dari dampak luas pernyataan sang pelukis tersebut. Perdebatan bukan hanya melibatkan para pelukis. Kalangan cendekiawan bahkan politisi ikut serta dalam perdebatan panas tersebut.

Bisa dimengerti pula jika perdebatan memasuki ranah politik karena Oesman memang menyentuh soal nasionalisme dalam pernyataannya. Pelukis tersebut dalam berbagai kesempatan senantiasa menyatakan bahwa, lukisan Indonesia memang terlalu terpengaruh dunia luar.

Lepas dari pengaruh tersebut, Oesman mengakui pascakemerdekaan, para pelukis yang sebelumnya ikut serta dalam revolusi kemerdekaan mampu menciptakan karya lukis menawan. Lukisan yang muncul setelah kemerdekaan lebih spontan, murni dan segar.

Oesman terbukti mampu mempertahankan sikapnya yang keras dan sinisnya tersebut. Pada 1977, Oesman kembali menerangkan mengapa ia menyebutkan bahwa seni lukis Indonesia sebenarnya tidak pernah ada.

Pingitan

Menyinggung masalah pameran lukisan koleksi DKJ-PKJ, Bambang mengharapkan pameran tersebut diharapkan mampu memberikan suguhan menawan bagi penggemar seni lukis. Berbeda dengan pameran lukisan tunggal pelukis masa kini, pameran kali ini mempunyai arti penting bagi pemahaman sejarah seni lukis. Pameran tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa koleksi lukisan DKJ-PKJ hanya menjadi karya pingitan yang tidak bisa dilihat masyarakat.

Bambang mengatakan masalah seni lukis Indonesia tidak ada mungkin penting, mungkin tidak. Yang jelas persoalan itu pernah menjadi polemik di kalangan seni rupa, seniman dan cendekiawan. Dengan demikian patut dikaji, seberapa besar pengaruh polemik itu pada seni rupa Indonesia.

Hal itu, kata Bambang, bisa diukur dari adakah sejumlah seniman yang sering diundang mengikuti pameran di berbagai negara? Adakah karya mereka dikoleksi beberapa museum di beberapa negara? Pertanyaan itulah yang menjawab seni lukis Indonesia ada atau tidak.

Hafiz, kurator pameran kali ini menambahkan, pameran diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai perjalanan seni lukis Indonesia. Jejak-jejak karya anggota Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi), dampak perdebatan antara Oesman dengan penentangnya pada lukisan hingga karya para pendukung Gerakan Seni Rupa Baru, bisa disaksikan. Jejak sejarah tersebut diperkuat dengan kutipan pemberitaan media massa, buku dan masalah para seniman dari berbagai kurun waktu.