PKS MAKASSAR SALUT PARTAI ISLAM INI TERBUKA BAGI NON MUSLIM

Tanggal : 4-02-2008, Kategori : Berita Utama, Makassar

LAPORAN : RATIH RUDHFIANI

MAKASSAR - SURABAYAWEBS.COM

Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Sanur, Bali, Minggu (3/2), merekomendasikan partai berasaskan Islam ini menjadi partai terbuka.
Mukernas adalah forum pengambilan keputusan tertinggi di partai kedua setelah musyawarah nasional (munas).
“PKS tidak lagi menjadi partai eksklusif melainkan terbuka bagi siapa saja. Baik bukan kader, termasuk bagi warga non-Muslim,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sulsel Nadjamuddin Mara Hamid, saat menyampaikan salah sau rekomendasi mukernas kepada Tribun, kemarin.
Mukernas resmi ditutup di Hotel Gran Inna Beach Sanur, kemarin setelah dibuka, Jumat (1/2), dengan kunjungan sejumlah elite DPP ke sejumlah pura, rumah ibadah umat Hindu Bali.

Basis Massa
Perubahan paradigma keanggotan partai di mukernas ini sekaligus menggeser citra PKS dari partai kader (elite) menjadi partai berbasis massa.
Untuk memperkuat basis massa itu, PKS mulai melirik calon pemilih di pedesaan seperti pedagang, petani dan nelayan, dan tokoh masyarakat.
Makanya, kata Najamuddin, PKS optimistis target perolehan suara pada Pemilu 2009 itu bakal tercapai. Alasannya, berdasarkan fakta yang ada, perolehan suara PKS mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 1999 (masih bernama Partai Keadilan) hingga 2004.
PKS juga menargetkan suara pemilu 2009 menjadi 20 persen. Pada pemilu 2004 lalu, PKS meraih suara
8,3 juta (7,3 persen) atau melonjak tajam dari pemilu 1999 yang hanya 1,5 juta dengan tujuh kursi DPR dan
26 kursi DPRD provinsi.
Pada Pemilu 2004, perolehan suara PKS mengantarkan 45 kadernya ke Senayan dan lebih dari 1.100 kader lainnya mengisi kutrsi DPRD provinsi dan kabupaten/kota.

Keberagaman
Ketua Umum DPP PKS Tifatul Sembiring juga mengatakan sikap terbuka partainya terhadap kader non- Muslim. “PKS mengakui keberagaman dan kita harus bisa mensinergikan keberagaman itu,” katanya.
Tifatulmenyebutkan, kunjungan ke beberapa pura di Bali, sebelum pembukaan mukernas sekaligus menandai babak baru rekruitmen anggota dan bakal calon legislatif PKS tahun 2009 mendatang.
Kebijakan ini, menurut dia, karena partai tidak boleh membatasi perbedaan suku, ras, dan agama. “Caleg non- Muslim silakan saja, asalkan mereka itu mewakili komunitasnya” katanya.
Dia pun mencontohkan Papua dan Bali. Menurut dia, jika memang di Bali ini bisa mewakili komunitasnya, meski beragama Hindu tidak masalah menjadi caleg dari PKS. “Kalau memang mewakili orang Hindu, mengapa tidak,” jelasnya.
Penjaringan calon legislator, lanjutnya, tidak berdasarkan latar belakang agama tapi lebih pada dasar kebersihan calon dari masalah korupsi, kepedulian calon, serta profesionalitas. “Kami juga akan cari orang-orang untuk calon legislator yang amanah,” katanya.

Dewan Syuro
Mukernas ini menghadirkan para elite DPP, mulai dewan syuro, dewan pembina, pengurus harian di semua level, hingga anggota legislatif di semua tingkatan.
Mukernas ini juga megesahkan penggantian dewan syuro DPP dari Hilmi Aminuddin kepada Taujih.
Mukernas juga secara intens membahas strategi konsolidasi pemenangan Pemilu 2009 dan seluruh pemilihan kepala daerah (pilkada) serta evaluasi struktur partai. Tim Bappilu PKS dipimpin Sekjen DPP PKS Anis Matta, politisi asal Sulsel.
Target 20 persen tersebut dinilai rasional. Dari 146 pemilihan kepala daerah, 86 diantaranya dimenangkan PKS.
“Hasil riset, kami hanya membutuhkan tambahan 5 persen suara lagi untuk sampai 20 persen,” kata Tifatul.
Selain membuka diri terhadap calon non-Muslim, lanjutnya, partainya juga akan meningkatkan soalialiasi ke desa-desa, pemukiman nelayan, serta komunitas penduduk yang selama ini belum tersentuh partai. ” Sekitar 60 persen pemilih hanya tamatan SMP,” katanya.
Strategi lain, kata dia, basis partai yang semula pengkaderan akan diubah menjadi partai yang berbasis massa. “Angka 20 persen bisa dicapai jika partai tidak lagi berbasis kader, tapi massa,” tambahnya.

Najamuddin menjelaskan, pencalonan calon legislasi
non-Muslim tidak perlu mengubah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai.
“Di anggaran dasar dan anggaran rumah tangga tidak disebutkan kader harus Islam,” katanya.
Selama ini, PKS lebih membuka diri agar mendapat dukungan luas dari masyarakat. Sebagian warga masih berpendapat bahwa PKS itu ekslusif, padahal sebenarnya tidak demikian. “Banyak figur mau bergabung, tapi terkesan kader internal kurang siap, sehingga kita ingin kembali ke keaslian partai Islam,” kata Nadjamuddin.
Partai ini membuka peluang seluas-luasnya bagi figur populer atau tokoh masyarakat setempat untuk menjadi calon legislatif.
Ketua Bappilu PKS Sulsel, Akmal Pasluddin, mengatakan, putusan menjadi partai terbuka ini akan menguntungkan partai ke depan.
Figur non-Muslim juga bisa saja apabila menguntungkan partai dan tokoh tersebut mau mengikuti aturan partai,” katanya.
Perekrutan caleg menjadi poin penting di agenda mukernas karena ke depan, PKS ingin menjadi wadah bagi semua golongan.
Hanya saja, Nadjamuddin kembali menegaskan, azas PKS tetap azas Islam. Bukan nasionalis, melainkan hanya partai terbuka bagi siapa saja yang penting bisa menegakkan panji-panji dan misi partai.
Acara yang berlangsung dua hari itu dibuka Ketua Majelis Syuro Hidayat Nur Wahid didampingi Presiden PKS Tifatul Sembiring. Para ketua DPW PKS, Bappilu, dan ketua DPD (kabupaten/kota) seluruh Indonesia ikut menjadi peserta. Jumlah peserta berkisar 1.500 orang.

Survei Popularitas
PKS mengundang sejumlah pakar untuk menjadi memberikan masukan kepada 1.500 peserta mukernas. Muhammad Qodari, peneliti Lembaga Indobarometer dalam Dialog Peluang dan Tantangan PKS ke Depan, menyebutkan secara matematis PKS butuh 15 persen tambahan suara untuk memenuhi target yang ditetapkan. Padahal Pemilu 2009 tinggal sekitar 14 hingga 15 bulan lagi. Jadi dibutuhkan penambahan suara sekitar satu persen setiap bulan
Hasil survei Indo Barometer 2007 lalu, menyebutkan, PKS mendapatkan skor 89 persen dari segi popularitas. Skor itu masih berada beberapa tingkat dari partai besar lain seperti PDIP, Partai Golkar, PPP dan PKB. Kendati demikian, kata Qodari, dimungkinkan target tersebut tercapai. Hanya saja PKS harus bekerja keras untuk mewujudkan ambisinya.
Qodari menilai target PKS meraih 20 persen suara kurang realistis. “Itu sangat berat,” katanya. Menurutnya, tren popularitas PKS saat ini justru sedang stagnan. Popularitasnya bahkan nyaris turun.
Ia menyebutkan, pada Desember 2007 survei yang lakukan lembaganya menunjukkan masyarakat yang akan memilihPKS pada pemilu legislatif 2009 hanya sebessar 5,2 persen. “Jadi masih jauh panggung dari api,” katanya.

Sementara, pengamat politik Islam Greg Fealy justru optimis PKS akan memiliki kans besar meraup suara dalam Pemilu 2009.
Analisis ini berdasarkan pada kesiapan partai ini daripada partai Islam lainnya. “Dari segi militansi kader, disiplin partai, serta citra PKS lebih baik dari partai islam lain,” ujar Greg yang juga menjadi pembicara.
Untuk mencapai target itu, PKS harus membuka diri dan tidak hanya mengandalkan program dan suara kader. PKS juga harus memiliki tokoh nasional yang populer. “Sampai sekarang PKS tidak punya tokoh nasional yang populer,” katanya.
Menurutnya, PKS tidak akan terjebak dalam eksklusivisme dan fanatisme kelompok. Apalagi, falsafah dasar perjuangan PKS yaitu sebagai entitas politik yang berjuang dengan dasar akidah, asas, dan moralitas Islam.
“Makanya cita-cita PKS menuju masyarakat madani, adil, sejahtera, serta bermartabat akan tercapai. Cita-cita nasional pun bakal tergapai,” tuturnya.