HARAPAN PENGUSAHA MELALUI REKONSTRUKSI KABINET SBY-BUDI

Tanggal : 15-10-2009, Kategori : Sorot Tokoh, Sorot


OLEH : MURHAN RAMLY

Harapan dan doa masyarakat Indonesia pasca pilpres 2009 tentu menjadi tujuan nasional agar bangsa Indonesia bisa merobah berbagai keterpurukan yang dialami oleh bangsa yang bermacam culture dan ras ini.

Memasuki era babak baru dibawah “top leadernya SBY-Budi” akan dihadapkan oleh berbagai tuntutan karena memang seperti itulah harapan masyarakat dan kalangan pengusaha dalam menanti perubahan yang bisa memperbaiki keadaan lima tahun kedepan.

Apa yang terjadi selama ini dari estapeta kepemimpinan bangsa kita adalah sedang mencari-cari , apa yang terbaik untuk dilakukan oleh elit pemimpin, mulai dari eksekutif,yudikatif hingga kepada  legislative termasuk usahawan dan general publik.

Ketiga lembaga Negara itu  menjadi harapan dan penentu kinerja SBY-Budi untuk menjawab harapan masyarakat Indonesia.

Tergambar bahwa pemerintahan yang akan dibangun oleh presiden sekarang ini sudah pasti akan membaur dengan unsure politisi dan professional yang akan bekerja karena pemimpinnya memang memiliki perbedaan dari segi kemampuan dan latar belakang yang berbeda . Bahkan menurut UU, SBY akan mengakhiri pemerintahannya dalam  satu putaran lagi yaitu 5 tahun kedepan kemudian  akan dilanjutkan oleh “new generasi” .Itulah yang akan dipersembahkan oleh SBY-Budi diakhir pemerintahannya kelak.

Lima tahun kedepan bagi duet pemimpin nasional ini memiliki bobot dan problem yang begitu besar , taksirannya terlalu berat dientaskan oleh duet ini karena waktulah yang akan  berbicara bukan tuntutan public lagi.

Kita tidak memahami apa yang akan direncanakan oleh kedua pemimpin ini untuk menyelesaikan berbagai problem itu. Tapi kita pun bisa mengamati bahwa kekuatan SBY-Budi setelah  perampingan jumlah parpol yang menduduki Senayan sudah di diperkecil jumlahnya karena sejumlah parpol tidak lolos dari ETP becoz under 3 %, hanya ada  9 parpol yang menempatkan kadernya di Senayan sekarang ini.

Dengan jumlah yang lebih ramping dikaitkan dengan  jabatan kepresidenan sebagai mitra dari pada legislative yang duduk di Senayan ,maka untuk melakukan perobahan berbagai infrastruktur pembangunan tentu lebih longgar, apabila dibandingkan pada periode sebelumnya sehingga program peresiden itu bisa berjalan dengan baik.Ini kalau kita melihat dari tekanan politis yang akan dihadapi oleh SBY- Budi.

Karena pembangunan negara kita ini untuk lima tahun kedepan akan bisa teratasi jika duet ini mampu “bernawaitu” untuk melakukan perobahan dengan pendekatan tanpa  banyak direcoki oleh keputusan politis yang tidak ada untungnya untuk suatu program pada  berbagai pembangun.

Membuka peroses perjalanan bangsa Indonesia sebenarnya bangsa kita ini bukan baru kemarin belajar dari beberapa pergantian kepemimpinan yang  melalui seleksi pemilu mulai sejak dari tahun 1955 hingga 2009 kita telah meraih pendidikan bernegara dari peroses pemilihan itu , sehingga telah  banyak pengalaman dan kemampuan yang dicapai oleh  bangsa kita ini dengan melalui taksiran nilai,  diatas rata-rata apabila kita ingin membandingkan dengan Negara tetangga kita.

Namun apa yang kita lihat sekarang ini setelah era reformasi perlahan bangsa kita ini seakan terdesak oleh tantangan globalisasi dan terpuruk hingga dari Negara- Negara yang dulu dibawah kelas bangsa kita ini.

Jadi apabila ada  hambatan yang dialami  selama ini, itu karena  keputusan pemerintah dan legislatifnya sering tidak ketemu, dan ujungnya bermuara di Yudikatif untuk sebatas melakukan penyelesaian berbagai sengketa. Masalahnya pun hanya  saling melempar kesalahan, dan ini fakta,  pejabat dan politisi banyak yang masuk bui karena memang dirancang untuk seperti itu.Dari persoalan itu menghasilkan kemitraan antar pemerintah dengan legislative sepertinya masih saling adu kuat dari pada memperbaiki kepentingan public.

Dari kasus itu banyak yang menyita waktu bagi ketiga lembaga Negara kita  sehingga rakyatlah yang melakukan kegiatan dengan kemampuan apa adanya. Hal ini sekedar untuk jalan saja. Tanpa diikuti oleh kemauan pemerintah. Akhirnya banyak peroyek infrastruktur Negara yang macet karena tidak ada dukungan yang kuat dari pemerintah maupun legislatifnya. Kalaupun pemerintahan daerah melakukan kegiatan dengan bersandar kepada Otonmi daerah itupun tidak kuat karena berbagai kebijakan masih di tentukan di pusat. Tentu ini sudah diketahui oleh public. Artinya kebijakan dipusat itu memang tidak ada masalah selagi bisa di rasakan oleh masyarakar secara nasional.

Kalaupun pemerintahan ini nantinya mau melakukan perbaikan atas berbagai tuntutan , sebenarnya sudah difahami oleh elit kita  , tapi yang menjadi persoalan bagaimana SDM Kabinet nantinya mau bekerja dengan “nawaitu”  bahwa “Thi is our job for make inprovment in every infrastructure”. Jadi president tidak hanya menanggung beban tuntutan tapi menteri-menterinya mampu meyakinkan kepada public bahwa berbagai program di yakini oleh masyarakat bahwa itu mendapat “attensi” dari public dan fakta penyelesaiannya.

Perobahan system kepemimpinan di Negara kita ini sebenarnya telah terjadi perobahan dari kalangan politik praktis yang  menerima kalangan  professional menjadi orang kedua dipemerintahan RI ini.

Yang menjadi pertanyaan  dibwah pemerintahan SBY-Budi nantinya , adalah akan kah ini berjalan bisa  untuk meyakinkan kalangan usahawan dan masyarakat umum bahwa  bangsa kita ini akan keluar dari resesi ekonomi global yang diduga karena pengaruah  kaum kapitalis yang tidak mau kalah dalam berniaga ?

Pasti atau tidak akan seperti itu, tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintahan nantinya adalah mitra pemerintahan SBY-Budi  yang baru menjadi legislative dan mereka pun masih belajar untuk memahami apa itu pembangunan secara jangka pendek,menengah dan panjang. Apabila anggota DPR yang baru ini akan banyak melakukan kesalahan akan menjadi hambatan duet SBY-Budi dan pasti public hanya mengingat presidennya karena dipilih langsung oleh rakyat dengan berbagai rekaman-rekaman kampanye yang direcord oleh public.

SBY-Budi, akan diperhadapkan oleh tuntutan sementara sisa pemerintahannya hanya lima tahun kedepan dengan skala perbandingan antara peroblem dan waktunya tidak seimbang apabila kita mengkalkuasi menurut hitungan matematis. Tapi sebagai Negara yang meyakini akan kebesaran “Sang Pencipta” bisa juga perediksi dan ramalan serta  pengamatan dari unsur pengamat dan peraktisi tidak demikian.

Disinilah SBY-Budi dihadapkan pada kepercayaan diri untuk membentuk tim kabinetnya menghadapi era serba penuh tuntutan dan tantangan.  Andai bisa dipertimbangkan sebaiknya SBY-Budi tidak membangun banyak menteri, kalau SBY – Kalla ada 35 menteri saatnya dipangkas paling banyak 20 menteri dengan mempertimbangkan sisa waktu satu putaran lagi yaitu 5 tahun kedepan SBY- akan pension dari jabatan KEPRESIDENAN. Who is the next  Presiden ?.